Rabu, 05 Februari 2014

Banjir #oh Banjir

     Dalam perjalanan berangkat ke kantor hari ini, pagi pagi, saya sudah menjumpai satu hal yang bisa di bilang kecil apabila kita tidak memikirkannya secara mendalam. Ya, hal yang sangat mungkin terasa sederhana sekali. Kebetulan memang perjalanan saya dari rumah menuju tempat kerja pastilah harus melewati beberapa jembatan, yang kebetulan bukan jembatan penyeberangan seperti banyak terdapat di kota kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya dan lain sebagainya. Tetapi ini adalah jembatan yang berada di atas sungai, trus so what kalau kamu berangkat kerja melewati jembatan?, mungkin itu yang ada di benak anda saat membaca tulisan ini. He he, sabarrrr .....

     Nah, satu saat ketika melewati salah satu jembatan tersebut, kebetulan saya berada di belakang sepasang pria wanita naik sepeda motor, entah suami istri, sepasang kekasih, ibu dan anak .... kayaknya bukan mengingat perkiraan usia mereka tidak terpaut jauh .. tiba tiba si wanita pembonceng melemparkan sesuatu, kemana?, ya ke arah sungai. Wuutttssss ......... jatuhlah sang plastik berisi sesuatu ke sungai, hilang terbawa arus. Tidak usah fokus ke isi plastik yang di buang si wanita, karena menurut pengamatan mata telanjang saya selama sepersekian detik, tidak ragu dan tidak bimbang, saya pastikan plastik tersebut berisi .... SAMPAH!!!
Trussss????? apa inti tulisan ini dari tadi??? 

     He he he, intinya adalah ... flashback ke kegiatan pagi sebelum berangkat kerja sambil nyuapin anak yang mau berangkat sekolah, saya membaca berita di salah satu portal terkenal di Indonesia. Tentang apa? ya tentang banjir lah, karena pemberitaan hangat yang ada saat musim hujan ini adalah banjir yang tengah melanda sebagian besar kota Jakarta tercinta, yang menimbulkan katanya kerugian 2 Milyar rupiah setiap harinya. Eh? kok 2 Milyar? 2 Triliun rupiah, bayangkan. Itu kalau di belikan beras kira kira sudah dapat 250jt dengan asumsi per kilo beras 8 ribu rupiah. WOW. Belum banjir banjir yang melanda kota kota di seputaran jalur pantura dan sebagainya. Dan kemudian saya teringat percakapan saya melalui perangkat blackberry saya kemarin Rabu, 5 Februari 2014 dengan saudara saya yang tinggal di Bogor dan bekerja di Jakarta, yang sudah mulai galau sejak pagi, gegara kereta yang di tumpangi hanya sampai di satu stasiun gegara banjir, sehingga hari itu saudara saya memecahkan rekor muri ( katanya ) untuk datang paling terlambat ke kantor sepanjang sejarah dia bekerja.

     Nah salah satu hal yang sudah sering di sampaikan oleh para pakar, entah pakar perbanjiran atau pakar kebersihan, bahwasanya salah satu penyebab banjir ini adalah karena saluran air yang ada tersumbat oleh sampah, pasti anda kemudian berpikir "ah, kita kan cuman buang sampah seplastik", "seplastik" kata anda? yah, seplastik kalau yang membuang sampah adalah 50 juta orang, maka sampah yang terbuang ke saluran air akan menjadi 50 juta plastik. Bayangkan, itu semua hanya karena kita berpikir kalau yang kita buang "hanya seplastik". Maka dari itu saudara saudara sebangsa dan setanah air, mbok hiya o, timbulkan kesadaran diri kita dari hal hal kecil dalam kehidupan sehari hari, such as membuang sampah di tempat sampah yang sudah di sediakan, sehingga paling tidak bisa meminimalisir salah satu penyebab banjir. Walaupun kenyataannya memang masih banyak hal hal lain yang bisa menyebabkan banjir.

     Sampai disini dulu pemirsa, ingat kalau mau piknik, silahkan datang ke Jogja, yang sampai saat ini Alhamdulillah masih aman dari banjir. Terimakasih.

   




Tidak ada komentar:

Posting Komentar